Senin, 18 Juni 2018

KESALAHAN-KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN SAAT LEBARAN



Kapan Nikah?
Kerja Dimana?
Gajinya Berapa?
Udah lulus ya?
Nilainya Berapa?
Kuliah Dimana?
Udah punya mobil ya?

Adalah sekelumit pertanyaaan atau bahan obrolan dikala hangatnya lebaran. Ya, Hal itu memang wajar, penulispun juga sering mengalami hal itu
Tetapi apakah kamu sadar, pertanyaan demi pertanyaan tersebut kadang merefleksikan didalam diri kita sendiri sehingga suatu “perbandingan” akan kita alami. Perbandingan disini akan menimbulkan pikiran “Rumput Tetangga Selalu Tampak Lebih Hijau”  Seperti sebuah peribahasa Jawa “Urip iku wang sinawang artinya hidup ini tentang apa yang dilihat dan apa yang terlihat, maka jangan melihat dari apa yang terlihat” 

“Wah ternyata dia udah sukses ya, udah jadi PNS, Gajinya gede”
“Wah keren banget ya, dia udah punya mobil banyak, pasti duitnya banyak”
“Gilaaak, dia udah jalan jalan ke Luar Negeri nih, pasti hidupnya berhambur hamburan uang”
“Kuliahnya di Universitas ternama di Indonesia coooy, pasti beruntung banget”
“Ternyata usaha bisnisnya udah maju nih, pantesan dia kayaaa, gue kapan ya?”

Respon tersebut merupakan hal yang lumrah karena, kembali lagi pada hidup ini tentang melihat dan dilihat. Tapi tanpa kita sadar pertanyaan di awal tadi telah menimbulkan suatu rasa “kecemburuan sosial” yang berujung pada sakit hati. Akhirnya momen suci di Hari Raya Idul Fitri sering ternodai dengan pertanyaan tersebut.
Kita tidak dilarang untuk menilai, tapi tidak semua penilaian kita itu benar. Terkadang kita melihat sedikit kejahatan seseorang hingga kita menjulukinya dengan orang jahat, padahal orang tersebut baru sekali melakukan hal tersebut, namun seringkali orang beranggapan telah berkali-kali

Saya pernah membaca suatu cerita ada seorang ibu rumah tangga yang menjadi wanita karir. Di hari lebaran, seperti banyaknya oranng ia mmenghabiskan cuti untuk melakukan pekerjaan rumah. Suatu ketika saudaranya datang, dan melihat wanita itu melakukan pekerjaan rumah. Saudaranya bilang, “Ealah Nduk apa ndak eman eman kuliahmu, kamu itu sekolah tinggi loh, masak cuma jadi ibu rumah tangga gini”. Padahal wanita itu mengambil cuti karena bertepatan dengan hari lebaran,  sedih memang terkadang orang lain menjadi seperti Tuhan yang “tahu segalanya”

Ingat !!!
Satu tahun itu tidak ditentukan satu hari

Terkadang kita tidak tahu apa yang kita lakukan selama ini. Misalnya yang dilakukan wanita tadi selama satu tahun adalah berikhtiar mencari uang dan menjadi wanita karir. Terkadang orang hanya melihat hanya indahnya saja dari kita, tanpa mengetahui seberapa perihnya pengorbanan yang sudah kita lakukan”
Kita tahu orang lain sering jalan-jalan ke Luar Negeri, tapi tidak tahu perjuangannya mengumpulkan sedikit demi sedikit uang dan rela tidak jajan seharian.
Kita tahu bisnisnya tetangga maju banget, tapi tidak tahu seberapa jatuh bangunnya dia membangun bisnis tersebut
Hidup itu tentang dilihat dan melihat. Jangan goyah dengan penglihatan orang. Selama kita sudah memiliki prinsip yang kuat, kita tidak akan jatuh dan terpeleset dengan pertanyaan tersebut. Fokus dan hijaukan rumput kita sendiri.
Lebaran adalah suatu ajang menuju kata “meminta maaf” bahkan bukan sekedar meminta maaf, melainkan rasa memberi maaf dan tidak akan mengulanginya lagi. Jangan nodai sucinya fitri dengan lisan kita yang tak terkendali. Menanyai tanpa menyakiti adalah hal yang paling baik. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 
Mohon Maaf Lahir dan BatinπŸ˜€
Penulis juga meminta maaf karena, baru bulan ini mulai menulis lagi. Dimaafkan dong yaa hehe πŸ˜€πŸ˜€


0 komentar :

Posting Komentar