Sedang Belajar Menuangkan Pikiran Lewat Rangkaian Tulisan Blog ini berisi curahan perspektif kehidupan, pertanian dan pengalaman kemahasiswaan yang bersumber dari pengalaman penulis. Semoga bermanfaat, Winner !

Minggu, 26 Januari 2020

Gagasan Kampus Merdeka : Apa kaitannya dengan Kehidupan Realita?


Gagasan Kampus Merdeka : Apa kaitannya dengan Kehidupan Realita?

Masih hangat, kebijakan Nadiem Makarim tentang Merdeka Belajar bertajuk Kampus Merdeka. Saya jadi teringat, tiga tahun yang lalu (2016) membeli buku karya Danang Girindrawardana seorang founder Leadership Park yang berjudul Maximum Of You (MOU). Sebuah buku yang saya dapatkan dari Gramedia daerah saya dengan harga ramah di kantong. Buku ini adalah buku pertama yang menuntun saya ketika menjadi mahasiswa baru. Banyak hal yang di ulik terkait dunia kemahasiswaan dan kampus.

Salahsatu yang masih saya ingat adalah, tentang bab “Keluar dari Pagar Kampus” penulis mengungkapkan bahwa, Ada 24 jam sehari yang bisa Anda miliki. 24 jam itu bisa jadi tinggal 2,4 jam. Mengapa? Karena Anda harus berkompromi, menyesuaikan waktu dengan lingkungan. Sisa waktu itu yang akan kita pergunakan untuk belajar mengamati dunia luar agar dalam waktu cepat kapasitas kedewasaan Anda menjadi lebih besar.

Penulis buku tersebut bertanya, Apakah Anda telah memanfaatkan waktu-waktu tersebut selama menjabat menjadi mahasiswa? Ada banyak mahasiswa diluar sana yang melakukan hal yang sama dengan Anda yaitu, belajar. Tetapi pertayaannya adalah, apakah Anda sudah “benar-benar belajar?’

Dalam buku tersebut, penulis menyarankan:
1. Keluarlah dari pagar kampus,persering temui sebanyak mungkin objek yang sesuai dengan studi dan minat Anda.
2  Analisis objek tersebut, gunakan kata Tanya, “mengapa dan bagaimana jika”.
3. Dokumentasikan hal itu sesuka Anda.
4. Serap pembelajaran itu dengan pikiran, tidak perlu berharap hasil apa pun pada saat ini, kecuali Anda bisa menetapkan target sasaran yang perlu mendatangkan hasil.

Buku tersebut menginspirasi saya untuk membuat target selama kuliah. Salahsatu target yang saya buat adalah “One Week One Person”. Setiap satu pekan sekali saya berusaha mendatangi tokoh yang lebih tua dan berpengalaman untuk belajar. Segelintir praktisi saya datangi untuk belajar, memberanikan diri bermodalkan “sok kenal” yang saya coba. Akhirnya kurun waktu satu bulan pun bisa terlaksana dengan rutin. Hampir sama dengan gagasan Kampus Merdeka bukan?

Mendatangi praktisi pertanian, social entreprise, akademisi sampai belajar dari pedagang jalanan. Setiap akhir pekan bisa diagendakan untuk membuat appointment dengan mereka, berdiskusi melingkar atau lainnya. Saya bertanya “mengapa dan bagaimana jika” kepada mereka. Saya rasa hal tersebut sangat membantu saya dalam memandang kehidupan, walaupun langsung belum ada hasilnya, setidaknya saya menjadi sedikit dewasa.

"Kita menjadi dewasa bukan karena usia, tetapi karena kontaminasi orang-orang dewasa di sekitar kita"

Lantas, Apa ada manfaatnya dengan dunia pasca kampus?

Jawabanya adalah ada dan sangat berpengaruh. Hal itu tak lain dan tidak bukan terkait dengan AQ (Adversity Quotient) sebuah kecerdasan mengatasi kesulitan yang dicetuskan oleh Stoltz. Kemampuan seseorang dalam mengatasi kesulitan hidup dan mengukur kemampuannya dikenal dengan konsep adversity quotient (Stoltz, 2000). Stoltz (2000) menjelaskan bahwa individu yang memiliki adversity quotient yang tinggi adalah individu yang memiliki kegigihan dalam hidup dan tidak mudah menyerah, memiliki kekebalan atas ketidakmampuan dirinya menghadapi masalah dan tidak akan mudah terjebak dalam kondisi keputusasaan. Adversity quotient tinggi menunjukkan kemampuan untuk bertahan dan terus berjuang ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan hidup, penuh motivasi, dorongan, ambisi, antusiasme, dan semangat yang tinggi.

Berdasarkan penjelasan tersebut, memang benar adanya. Saya merasakan dampak “One Week One Person“ bertajuk keluar dari Pagar kampus” yang berpengaruh. Menjadi pribadi yang tahan banting misalnya. Sayang sekali hal itu tidak saya lakukan rutin lagi, dikarenakan banyak hal lain yang dilalui dan harus diselesaikan. Tetapi diluar dari itu, saya tetap mencoba berbagai hal dengan mengikuti organisasi, kepanitiaan, magang dan lain sebagainya. Dengan adanya kebijakan Kampus Merdeka ini, semoga membuat Mahasiswa era ini menjadi lebih berkualitas dan siap menghadapi pasca kampusnya.

Teruntuk Anda pembaca tulisan ini, terimakasih telah membaca sampai selesai 
Selamat memanfaat waktu dengan benar dan hati-hati selama menjadi mahasiswa
Selamat menyongsong hari senin, banyak sekali dari kalian yang mungkin sedang magang wajib kan? Haha
Semangat mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan mengaplikasikan pada tujuan Anda

"Kunci sukses bukan sekadar berada di isi kepala, tetapi juga ditentukan dari ayunan langkah sepatu Anda, Tetapi jangan lupa, hati yang penuh iman jauh lebih menguatkan daripada kepala yang penuh pengetahuan"

Semoga menginspirasi,
Arifah Eviyanti
Dalam suasana hati yang sangat menantang

Referensi:
Aprilia E, Rachmadi N.  2018. Hubungan Adversity Quotient Dengan Kecemasan Menghadapi Dunia Kerja Pada Freshgraduate Universitas Syiah Kuala. Jurnal Psikogenesis, 6 (1) 54-60
Girindrawardana D. 2014. MOU (Maximum of U). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Stoltz, PG. 2000. Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang (Terjemahan: T. Hermaya). Jakarta: Grasindo.