Sedang Belajar Menuangkan Pikiran Lewat Rangkaian Tulisan Blog ini berisi curahan perspektif kehidupan, pertanian dan pengalaman kemahasiswaan yang bersumber dari pengalaman penulis. Semoga bermanfaat, Winner !

Selasa, 11 Februari 2020

Merangkai Hikmah Lewat Tulisan





Segudang Hikmah Perjalanan dari Kota Bayu

#series1 Seni Pertemanan, The law of attraction

Hari itu, aku mendapat kesempatan memberi materi pada salahsatu acara komunitas rintisan temanku. Yup, Tirta Foundation namanya. Komunitas ini bergerak pada sektor pendidikan di Nganjuk, yang mana mewadahi siswa SMA/SMK sederajat untuk bertemu, berkeluh kesah dan mengembangkan potensi bersama untuk melanjutkan kuliah. Sungguh, mulia sekali tujuannya. Jika disimak ke belakang, aku mengenal dia karena media sosial di Instagram Stories. Aku pun mengikutinya, karena melihat posting salah satu temanku, ternyata temannya temanku sedang mengikuti ajang Mahasiswa Berprestasi di UGM. Singkat cerita, setelah beberapa bulan aku dikagetkan dengan pesan masuk di Instagramku, yang ternyata darinya. Dari situ, kami pun sangat akrab sekali walau kami belum pernah sekalipun bertemu. Aku belajar banyak dari nya, mulai dari menjadi anak yang patuh terhadap orang tua, prioritas kehidupan dan dalam hal bermanfaat untuk orang lain. Yup, namanya adalah Tirta Meyrizka Lubis seorang Mahasiswa Berprestasi Utama UGM.

Saya percaya hukum tarik menarik. Konon katanya, orang-orang yang memiliki satu frekuensi akan dikumpulkan disuatu tempat. Tak jarang, jika ditempat baru kita mungkin merasa bertemu dengan orang yang sangat dekat kita. Bahkan di dunia maya pun, saya dipertemukan dengan orang yang memiliki frekuensi yang sama.

Kesimpulannya adalah, pancarkan energi positif maka kau akan menerima energi postif, begitupun sebaliknya.

#series2 Kehilangan Kahuripan kemudian mendapat Logawa, ikhlas atas ketetapanNya

Jantungku berdebar, kakiku gemetar. Saat itu posisi aku dibonceng oleh seorang lelaki. Kulihat jam di Handphoneku, sudah menujukkan pukul 8.37 WIB. Segera kuminta lelaki itu untuk menambah kecepatan kendaraannya. Lelaki tersebut adalah ayahku yang selalu mengantarkanku kemanapun aku akan pergi jauh. Kereta akan mulai berjalan 8.50 WIB, terbesit dalam pikiranku bahwa tidak akan sampai stasiun kurang dari pukul 8.50 WIB.

Pikiranku membuncah, kumarahi diriku mengapa tidak segera melakukan ritual pagi. Sekarang aku harus terburu-buru dan terpaksa akan tertinggal kereta api. Pukul 8.45 WIB aku sudah sampai di dekat stasiun. Turun dari motor langsung berpamitan dengan ayah dan segera berlari melintasi rel kereta api. Ternyata jalan menuju stasiun Purwosari ditutup. Ku lepas alas kaki ku dan berlari beralaskan kaos kaki. Tak peduli siapa saja yang melihat aku, yang penting aku jadi naik kereta api hari ini. Alhamdulilah, 8.47 aku sampai di stasiun. Yang paling parah ternyata boarding pass tiket online ku belum aku cetak. Nampaknya aku berhenti sedetik, dan mencoba untuk tetap berjalan menuju tempat cetak tiket. Dan ternyata benar, tiket sudah tidak dapat dicetak. Kucoba hampiri petugas dan menanyakan apakah keretaku sudah berangkat, dan ternyata baru 3 menit yang lalu Kahuripan sudah berjalan.

‘Mas, kahuripan sudah berangkat?” teriak seorang lelaki bertanya pada petugas, yang ternyata dia juga ketinggalan kereta.

Life must go on
Acceptance, 
In the other words, qanaah or legowo
It doesn’t mean that you are not allowed to be sad
In fact, embrace your emotions
Accepting yourself doesn’t mean justify you to be lazy, to settle quickly or to make you feel like youre not meant for greatness. Acceptance is not the same with making excuses.

Segera aku bergegas menuju loket dan membeli tiket baru. Ini pengalaman pertama kali dalam sejarah tertinggal kereta api jarak jauh. Alhamdulilah aku masih mendapat harga yang masih terjangkau. Dan betapa terkejutnya aku,
“Mbak,  nanti pakai Logawa ya?’ ujar petugas loket
“Wah, Logawa ya mba, oke siap” sahutku
Dalam hatiku bergumam, “wah tak mendapat kahuripan akhirnya dapat Logawa. Logawa kan dalam arti bahasa Jawa adalah Ikhlas dan rela atas segala ketetapanNya”. Harus  menerima keadaan atau sesuatu yang menimpa dengan tulus hati. Ah, sungguh romantic Allah mengingatkanku tentang hal ini.

Ku angkat kepala ku sambil tersenyum seolah menyambut kereta yang segera menghampiriku. Tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, akupun segera mencari tempat dudukku. Keretapun mulai berjalan. Kupandangi pepohonan yang melintas dalam pandanganku seolah melambai untuk berkata, ayo kamu harus ikhlas dan berbenah diri.

“Turun mana mbak?’ sahut seorang Ibu bersama 3 orang anaknya yang seketika memecah lamunanku.
“Saya turun Nganjuk Bu, Ibu dimana?” jawabku
“Oh, saya Purbalingga mbak” balasnya
Sejenak ku perhatikan mereka, tampak anak dari Ibu itu yaitu seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Lalu si Ibu bertanya harga tiket ku dan beberapa orang disampingnya. Ku jawab jujur dan aku sempat curhat kalau aku telah ketinggalan kereta sehingga harus membeli lagi.

“Eh sebentar, Mbak ini tadi yang jalan di rel kereta api tanpa sepatu ya?” sahut si Ibu
“Oh iya bu, Ibu kok tau, ah saya jadi malu hehe” jawabku
Sejenak aku tertawa dalam hati, wah kok bisa ya, orang yang disampingku ternyata yang melihat aku tadi. Lalu akupun ceritakan sebenarnya.

#series3 Jika Allah memandangmu pantas, pasti Allah akan mewujudkan cita-citamu dengan pantas - Dian Sapitri

Begitulah kutipan pada series ini, diambil dari sebuah buku karya adik tingkatku bernama Dian Sapitri yang ternyata juga menjadi LO ku. Judul buku tersebut adalah “Ledakan Semangat Pemenang”. Bercerita tentang sekarang adalah masa perubahan. Namun ditengah-tengah semua itu ada hal yang senantiasa menentukan sebuah kemenangan. Ia adalah pengejaran keunggulan yang fokus, melampaui motivasi, menjangkau ranah ilham. setiap anak manusia yang lahir di dunia ini mempunyai visi besar, visi besar itu ada seninya! untuk mencapainya tidak ada jalan yang rata dan pintas. Melainkan di mulai dari keikhlasan semangat dalam tekad yang kuat. mengikhtiarkan untuk mencari tahu yang paling tepat. Kisah inspiratif seorang penghafal Al-Quran anak biasa, dari desa apa adanya yang terlahir unik karena semangat juangnya meraih pesona pemilik langit tuk torehkan karya peradaban dari langit. Namanya Suwito yang berarti singgah di dunia, yang selalu mengingatkan kita bahwa kita di dunia hanya sebentar 1,5 jam dalam perhitungan akhirat. Wito selalu berpikir ‘’Jika raga tak lagi ada di dunia, setidaknya masih ada karya yang mendunia. Jika Allah memandangmu pantas, pasti Allah akan mewujudkan cita-citamu dengan pantas.’’
Image result for ledakan semangat pemenang
Dian adalah sosok adik yang mengingatkanku arti sebuah kehidupan didunia.

“Mbak, mungkin saat ini kita belum settle secara keuangan. Anak yang sholih juga belum punya. Kita hanya punya ilmu. Maka dengan membagikan ilmu ini adalah jalan ninjaku untuk memperoleh amal jariyah” katanya padaku saat kami berada di salah satu obyek wisata di Nganjuk

“Wah bener juga, itu sebabnya kamu rajin menulis ya?” sahutku

“Iya, kalo bukan begini apalagi?” jawabnya dengan yakin

“Ayo mbak, kita rajin nulis lagi, mbak pengen jadi penulis kan?” sahutnya lagi

Setelah bercerita panjang dan lebar tentang masa lalunya, alasan mengikuti Tirta Foundation, dan apa yang telah ia lakukan setahun terakhir.  Dia mengajakku berkelililng Kabupaten Nganjuk, Kabupaten yang dijuluki Kota Angin. Dan memang angin bertiup sepoi-sepoi. Rasanya beda sekali dengan Solo yang panas dan kalau sore hujan.

Sejenak aku merasakan hawa liburan. Seperti zaman kuliah dulu, pergi jalan jalan pada event lomba adalah bonus yang aku senangi. Rutinitas pasca kampus membuatku membutuhkan sedikit liburan. Alhamdulilah, terimakasih Dian.

#series4 Dunia itu sempit, Doaku hari ini semoga apa yang menurutku luar biasa saat ini, akan menjadi biasa saja di kemudian hari

Sebuah kalimat yang sempat dilontarkan oleh Mas Dikau Tondo Prasetyo pada saat sesi sharing diskusi. Dunia memang sempit, dulu sempat bertemu saat berkunjung di UNS. Lebih sempit lagi jika orang tersebut mengenal teman kita yang berbeda Universitas. Hal yang menurutku sangat seru untuk dijadikan pertanyaan ketika bertemu dengan lintas fakultas dan universitas, “Oh kamu dari ini? Kamu kenal ini dong?”

Dulu sewaktu menjadi mahasiswa baru aku memandang orang yang mengisi acara adalah suatu hal yang luar biasa. Alhamdulilah, dengan sedikit keberanian selama kuliah, dua tahun setelahnya aku mulai mendapat kesempatan berbagi seperti hal yang kuanggap luar biasa dulu. Lalu sekarang bagaimana? Tentu rasanya tak seluar biasa dulu, tidak pula menjadi biasa. Hanya rasanya menjadi kebutuhan untuk berbagi.

Hakikatnya, tidaklah kita menyukai sesuatu dengan berlebihan karena sesuatu tersebut akan menjadi hal yang biasa.

#series5 Mengobati Rasa Jiwa yang Hilang, Backpackeran sendirian bukan berarti menyakitkan

Kadang kita diharuskan untuk sendiri, tapi bukan berarti sendirian. Akan selalu ada yang mengawasi. Jika kita merasa bahagia dengan diri kita, maka kita tidak akan pernah merasa sendirian atau kesepian. Namun jika kita merasa tidak bangga menjadi diri Anda sendiri, meskipun kita berada di tempat yang sangat ramai, dikelilingi oleh orang yang menyenangkan, kita akan tetap merasa sendirian. Perbaiki diri dengan melakukan semua aktivitas dengan sepenuh hati, jangan membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

Jangan pernah berpikir kita menderita dengan kesendirian, banyak hal yang bisa Anda lakukan dengan diri kita sendiri. Hargai keberadaan jiwa, raga, karsa, dan karya kita menghargai apa yang dimiliki orang lain.