Sedang Belajar Menuangkan Pikiran Lewat Rangkaian Tulisan Blog ini berisi curahan perspektif kehidupan, pertanian dan pengalaman kemahasiswaan yang bersumber dari pengalaman penulis. Semoga bermanfaat, Winner !

Minggu, 31 Mei 2020


Sabtu, 30 Mei 2020

To Be Productive During Pandemic Era

To Be Productive During Pandemic Era

It’s tough enough to be productive in the best times let alone when we’re in a pandemic. No matter where you are in your life right now, either you are in the midst of adversity or succeding at the highest level of your life. We were born with the innate desire and drive continously grow and improve including in the best time and crisis era.  

How long have you been working from home?

Habits have been being did by ourselves for 30 days will affect the soul and personality. It will  adhere to the our subconscious and always command us to do it. Cling tightly and feel weird if you don't do it.

The next question, whether the habits are good or bad,

Do not let the good habits will be bothered by one bad day that we have built during this quarantine time. It will be controlled by making a "to do list". Making a "To do list" should be more specific, It doesnt mean blame yourselves if not being able to attain goals.

Today might be bad, but that doesn't mean your day will be bad forever.

The best to-do list app right now (2017) - The Verge

"A bad day doesn't mean your life is bad too" 
Making a "To do list" builds up a habit. The habit builds up personality. Personality builds up your live. Start change your life by making a "to do list". 


There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle
Albert Einstein
Grateful for the blessings of life that Allah has been being provided  :)  

Sabtu, 02 Mei 2020

Hatimu Tak Tenang? Baca Ini !


Inilah Rahasia Tenang

Banyak dari kita mungkin sampai detik ini sering mengeluh, galau, sedih
Mengapa hidupku tak seberuntung dia ?
Mengapa dengan cepatnya orang mudah sekali lulus kuliah?
Mengapa dengan mudahnya orang berganti smartphone?
Mengapa dengan mudahnya orang ke luar negeri, sementara aku ke luar kota saja susah?
Mengapa dengan mudahnya orang memperoleh juara , sementara aku saja gagal terus?
Mengapa dengan mudahnya orang mendapatkan uang ? sementara aku harus banting tulang untuk hasil yang tak seberapa

Dan masih banyak keluhan sejuta ummat lainnya yang mungkin tanpa kita sadari mengganggu pikiran bawah sadar kita. Banyak aspek kehidupan orang lain justru yang membuat kita galau. Manusia bak seperti sumbu kompor, mudah tersulut api dengan mendengar kebahagiaan orang lain. Seperti silaunya mata ketika melihat sorotan cahaya, mungkin itu sebuah perumpamaan kita ketika melihat teman datang dengan smartphone baru atau bahkan pencapaian baru.

Jika memang kamu merasa seperti itu, sangatlah pantas jika hari ini kamu pun tidak bahagia. Menurut Arthur Schopenhauer (1788-1860) percaya kecemburuan adalah wajar bagi manusia dan oleh karena itu, tidak bisa dipungkiri bahwa sejatinya manusia memiliki rasa iri. Arthur Schopenhauer percaya kecemburuan muncul dalam 'perbandingan yang tak terhindarkan antara situasi kita sendiri dan situasi orang lain.' Ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain, kita menyoroti perbedaan kita dan dengan melakukan itu, sorot inferioritas diri sendiri. Kita mulai percaya  tidak bahagia karena hal-hal yang kurang diperbandingkan, dan iri hati masuk dalam siklus kehidupan. 

Oleh karena itu belajar untuk mengelola rasa iri adalah yang penting. Sebuah kutipan lagu dari aktris ternama “Sing tenang, ben iso mikir, rasah sumelang, ojo kuwatir” yang berarti bahwa kita harus tenang dan tidak perlu khawatir memang harus menjadi prinsip hidup untuk menaklukan penyakit hati. Tidak mudah memang, tetapi hati ini harus dilatih untuk senantiasa bersih. Jangan biarkan alam pikiran bawah sadar menodai hati dengan hanya memikirkan hal yang kalang kabut.

Bersyukur untuk saat ini masih bisa kuliah, karena diluar sana banyak yang menginginkan posisimu saat ini
Bersyukur untuk saat ini masih punya smartphone, walaupun mungkin jadul, karena diluar sana banyak yang kebingungan menghubungi keluarganya karena tak memiliki smartphone
Bersyukur untuk saat ini masih bisa memikirkan liburan walaupun hanya didalam Kota, karena diluar sana banyak orang yang  sama sekali tak kepikiran karena untuk makan saja susah
Bersyukur untuk saat ini masih bisa mencoba lomba, walaupun gagal berkali-kali, karena mungkin kau sedang menghabiskan jatah gagalmu
Bersyukur untuk hasil yang tak seberapa, karena masih punya pundi pundi rupiah untuk menyambung hidup

Belajar dari seekor Ulat, yang selalu  pergi ke tempat yang diinginkannya, kadang dibawah daun, dipinggir sungai atau bahkan didalam kayu. Ulat tanpa cemburu dengan burung yang terbang bebas kesana kemari, karena Ulat tak punya sayap seperti burung. Ulat tahu bahwa Ulat hanya perlu bersabar, merambat pelan-pelan helai demi helai. Ulat tahu pada masanya nanti kelak Ia akan berubah menjadi seekor Kupu-kupu indah yang juga bisa terbang diatas bunga-bunga
Mari, kita bersyukur, bersabar dan berusaha untuk hidup kita saat ini. Yakinlah, suatu hari nanti akan tiba giliranmu untuk terbang dan menikmati ekspektasimu sesuai kehendak Allah.

Sebagai penutup saya ingin menuliskan kutipan dari sebuah buku Berlapang Jiwa dan Berbesar Hati dari Ipnu Noegroho.
Hasan Al Basri pernah ditanya,
Apa rahasia mu di dalam zuhudmu di dunia?
Aku telah mengetahui, bahwa rezekiku tidak pernah ada yang mengambil selain aku, maka tenanglah hatiku untuknya dan aku mengetahui bahwa ilmuku tidak akan ada yang melaksanakannya selain aku, maka aku akan menyibukkan diri dengannya, aku telah mengetahui bahwa Allah mengawasiku, maka aku malu berhadapan denganNya dalam keadaan maksiat, aku telah mengetahui bahwa kematian menghadangku, maka aku telah siapkan bekal bertemu dengan Allah

Sekian, semoga bermanfaat untuk mu :)


Terinspirasi dari:
https://www.youtube.com/watch?v=oPo3C1ecGYk (Bagaimana Membersihkan Hati - Ust. Hanan Attaki, Lc)
Noegroho, I R. 2017. Berlapang jiwa, Berbesar Hati. Yogyakarta: MUEEZA